Rencana Tesis

PENGEMBANGAN CAL ( COMPUTER-ASSISTED LEARNING) UNTUK PEMBELAJARAN BERPIKIR MATEMATIKA TINGKAT TINGGI
MASALAH:
1. Bagaimana kemampuan siswa SMA dalam menyelesaikan soal matematika tingkat tinggi (high order thinking) dengan Pembelajaran CAL?
2. Bagaimana sikap siswa terhadap pembelajaran CAL?

TUJUAN:
1. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika tingkat tinggi melalui Pembelajaran CAL?
2. Membuat proses pembelajaran matematika lebih interaktif

TINJAUAN PUSTAKA
I. CAL (Computer-Assisted Learning)
Menurut Martiningsih (2007) computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.
Sistem – sistem komputer dapat menyampaikan pembelajaran secara langsung kepada para siswa melalui cara berinteraksi dengan mata pelajaran yang diprogramkan kedalam sistem, inilah yang disebut pengajaran dengan bantuan komputer.
Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK) atau Computer Assisted Learning (CAL) adalah pembelajaran yang melibatkan penggunaan komputer untuk mempresentasikan materi belajar, tutorial dan umpan balik kemajuan belajar siswa.
Pengertian Computer-Assisted Learning atau “pembelajaran berbantuan komputer” adalah aplikasi komputer sebagai bagian integral dalam sistem pembelajaran terhadap proses belajar dan mengajar yang bertujuan membantu siswa dalam belajarnya bisa melalui pola interaksi dua arah melalui terminal komputer mau pun multi arah yang diperluas melalui jaringan komputer (baik lokal mau pun global) dan juga diperluas fungsinya melalui interface (antar muka) multimedia.

II. CAL dalam Pembelajaran Matematika
CAL/CAI ( Computer Aided Learning/ Computer Aided Instruction) program untuk belajar dengan bantuan komputer baik matematika, fisika, memasak, merakit komputer, mempelajari jalan sebuah kota.
III. Desain CAL
Dalam mendesaian CAL diperlukan:
 Atraktif
Desain dibuat semenarik mungkin agar siswa tidak bosan: warna, suara, animasi dsb
 Dinamis
Data selalu diperbarui sesuai dengan perkembangan
 Interaktif
Siswa mendapat respon dari komputer secara langsung: komunikasi dua arah
IV. Berpikir Matematika Tingkat Tinggi
Istilah berpikir matematika tingkat tinggi (high order mathematical thinking) memuat arti cara berpikir yang berkaitan dengan karakteristik matematika (Sumarmo, 2003). Adapun karakteristik matematika adalah (1) matematika sebagai suatu kegiatan manusia atau “ mathematics as a human activity”. Hal ini sejalan dengan dengan sifat kegiatan manusia yang tidak statis, pandangan “ mathematics as a human activity” memuat makna matematika sebagai proses yang aktif, dinamik, dan generatif. (2). Matematika sebagai bahasa yang memiliki beberapa kesamaan dengan bahasa lainnya, mereka memiliki aturan dan istilah tertentu, matematika sebagai bahasa juga memiliki perbedaan dengan bahasa lainnya. (3) Sifatnya yang menenkankan pada proses deduktif yang memerlukan penalaran logis dan aksiomatik, yang mungkin diawali dengan proses induktif yang meliputi penyusunan konjektur, model matematika, analogi atau generalisasi, melalui pengamatan terhadap sejumlah data.
Menurut Sumarmo bahwa secara umum berpikir matematik dapat diartikan sebagai melaksanakan kegiatan atau proses matematika (doing math) atau tugas matematika (mathematical task) sesuai dengan karak teristik matematika.
V. Jenis Berpikir Matematika Tinggi
Menurut Sumarmo (2003) berpikir matematika digolongkan dalam dua jenis yaitu:
1. Berpikir matematika tingkat rendah (low order mathematical thinking)
contoh melaksanakan operasi hitung sederhana, menerapkan rumus matematika secara langsung, mengikuti prosedur (algoritma) yang baku tergolong berpikir matematika rutin atau tingkat rendah
2. Berpikir matematika tingkat tinggi (high order mathematical thinking)
contoh kemampuan memahami ide matematika secara lebih mendalam, mengamati data, dan menggali ide yang tersirat, menyusun konjektur, analogi, dan generalisasi, menalar secara logik, menyelesaikan masalah (problem solving), berkomunikasi secara matematika dan mengkaitkan ide matematika dengan kegiatan intelektual lainnya tergolong pada berpikir matematika non-rutin atau tingkat tinggi (high order mathematical thinking).
VI. Indikator Berpikir Matematika Tingkat Tinggi
Menurut Sumarmo (2003) indikator beberapa jenis berpikir matematik
1. Pemecahan masalah
• Mengidentifikasi unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan
• Merumuskan masalah dari situasi sehari-hari dan matematika
• Menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah (sejenis dan masalah baru) dalam atau di luar matematika
• Menjelaskan/menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal
• Menyusun model matematika dan meyelesaikannya untuk masalah nyata
• Menggunakan matematika secara bermakna
2. Komunikasi Matematika atau Komunikasi dalam Matematika
• Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika
• Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematika secara lisan maupun tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar
• Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika
• Mendengarkan, berdiskusi dan menulis tentang matematika
• Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis
• Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi
• Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari
3. Penalaran Matematika atau Penalaran dalam Matematika
• Menarik kesimpulan logik
• Menjelaskan dengan menggunakan model, fakta, sifat-sifat dan hubungan
• Memperkirakan jawaban dan proses solusi
• Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematika, manarik analogi dan generalisasi
• Menyusun dan menyusun konjektur
• Memberikan lawan contoh (counter example)
• Mengikuti aturan inferensi; memeriksa validitas argumen
• Menysun argumen yang valid
• Menyusun pembuktian langsung, tak langsung dan menggunakan induksi matematika
4. Koneksi Matematika atau Koneksi dalam Matematika
• Mencari hubungan berbagai representasi konsep dan prosedur
• Memahami hubungan antar topik matematika
• Menggunakan matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan sehari-hari
• Memahami representasi ekuivalen konsep yang sama
• Mencari koneksi satu prosedur ke prosedur lain dalam representasi yang ekuivalen
• Menggunakan kineksi antar topik matematika dan antar topik matematika dengan topik lain
VII. Pentingnya Berpikir Matematika Tingkat Tinggi
Seperti dikemukakan oleh Shadiq (2007) bahwa proses pembelajaran di kelas kurang meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills) dan kurang berkait langsung dengan kehidupan nyata sehari-hari (kurang penerapan, kurang membumi, kurang realistik, ataupun kurang kontekstual)

DAFTAR PUSTAKA

Martiningsih. 2007. e-Learning. Online: http://martiningsih.blogspot.com/2007/09/e-learning.html [diakses 14 Oktober 2008]

Shadiq, Fadjar. 2007. Laporan Seminar dan Lokakarya Pembelajaran Matematika 15-16 Maret 2007 di P4TK (PPPG) Matematika.

Sumarmo, Utari. 2003. Berfikir Matematik Tingkat Tinggi: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan Pada Siswa SD dan SM dan Mahasiswa Calon Guru. Makalah Seminar Nasional dan Lokakarya FKIP Unsri. Palembang 20-21 Agustus 2003.

……………, 2007. e-Learning Media Pembelajaran.Online: http://kurtek.upi.edu/media/berbasis%20komputer.htm [diakses tanggal 14 Oktober 2008]

……………,2008. Linux Untuk Pembelajaran Berbantuan kompuer (CAI – Computer Aided Instruction). Online: file:///C:/Documents%20and%20Settings/xp1/Desktop/2839.htm [diakses: 14 Oktober 2008]


About this entry