Problem Based-Learning (Hasil dari Matrikulasi Bahasa Inggris)

Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Base Learning (PBL) dalam Upaya Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematika Siswa
By: Bambang Riyanto
Keyword: 1. Problem Base Learning
2. Matematika
3. Koneksi

PENDAHULUAN
Problem base learning ( Pembelajaran berbasis masalah) digambarkan suatu lingkungan belajar yang menggunakan masalah dalam pembelajaran. Ini berarti, pembelajaran dimulai dengan masalah untuk dipecahkan, dan masalah muncul bahwa siswa membutuhkan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikan masalah. Seperti yang dikemukakan oleh Mora bahwa”problem-base learning is particularly suitable in field like mathematics”. Hal ini menunjukkan bahwa problem base learning cocok untuk pembelajaran dalam matematika, hal ini didukung juga oleh paper syireen bahwa “ After undergoing the PBL ,for one out of the three semesters the preliminary findings reveal that a portion of the student are positive towards the PBL approach and though are comfortable in the current learning didactic system. Hal ini juga menunjukkan sikap siswa positif terhadap pendekatan PBL. Hal ini juga diperkuat oleh David Koh bahwa” Problem-based learning during medical school has positive effects on physician competency after graduation, mainly in social and cognitive dimensions.” , ini berarti kompetensi siswa meningkat dan pengaruh dengan siswa positif pada pembelajran PBL

Pembelajaran berbasis masalah suatu pembelajaran yang dalam proses pembelajaran menggunakan suatu konteks masalah untuk dicarikan solusinya. Seperti dikemukakan oleh Mosvold “ the theories of mathematics can be applied to varies problems, theoretical as well as practical”, hal ini berarti berarti bahwa matematika dapat diterapkan dengan barbagai masalah, atau dengan kata lain matematika berhubungan dengan kehidupan nyata, atau dalam matematika disebut koneksi matematika. Seperti yang dikemukakan oleh Dr. Man Yu Kwong bahwa keistimewaan PBL adalah dapat mengembangkan kemampuan berpikit matematika tingkat tinggi, salah satu berpikir matenatika tinggi tinggi adalah kemampuan koneksi matematika, sehingga perlu pendekatan PBL dalam pembelajaran dalam upaya peningkatan kemampuan koneksi matematika siswa.

Isi (Body)

I. Problem Base Learning (PBL)
Problem base learning (PBL) dimulai tahun 1950 sebagai perubahan ke restruktur pendidikan sekolah medis. Tidak seperti pembelajran trdisional yang berpuncak pada masalah setelah pembelajaran fakta dan keterampilan, sedangkan PBL dimulai dengan masalah, mengajar fakta dan keterampilan sesuai dengan konteks masalah.
Problem base learning (PBL) is situated approximately half-away a between and the social and radical constructivist paradigms, atau dapat diterjemahkan pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan dengan cara membagi paradigma konstrukstivisme social dan radikal.
PBL dimulai dengan masalah untuk dipecahakan, siswa bekerja dalam lingkungan PBL harus menjadi terampil dalam pemecahan masalah, berfikir kreatif, dan berfikir kritis (Roh, Kyeong Ha: 2003)
II. Keistimewaan PBL
Menurut Dr. Man Yu Kwong keistimewaan dari PBL adalah:
1. Siswa focus dalam kelompok belajarnya
2. Untuk mengembangkan berpikir kritis, berpikir analitik, atau berpikir tingkat tinggi.
3. Untuk mempromosikan kerja tim, presentasi dan diskusi kelompok.
4. Peranan dari instruktur adalah pelatih atau fasilitator.
Seperti yang dikemukan oleh Eng (2005) bahwa pembelajaran berbasis masalah ditemukan untuk memelihara kemampuan untuk menjadi pemikir kritis, keterampilan untuk menganalisis dan memecahkan masalah, keahlian dalam meneliti, mengidentifikasi, mengevaluasi dan menggunakan sumber informasi, kemampuan untuk bekerjasama dalam kelompok, dan keterampilan berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Pembelajaran Berbasis- masalah juga dituntut untuk meningkatkan pembelajaran bermakna Eng(2005)

III. Prinsip PBL (Tennets PBL)
Adapun prinsip dari PBL adalah:
1. Kebutuhan siswa untuk solusi otentik, masalah open-ended dengan kemungkinan jawaban benar banyak.
2. Masalah otentik di muka oleh ilmuwan, dokter, insinyur, ahli hukum, pendidik, administrator dan konselor.
3. Menekankan pada pengetahuan awal siswa; dimulai dari siapa Anda?
4. Siswa secara aktif berpartisipasi dalam merencanakan, mengorganisasikan, dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
5. Hubungan yang kuat anta disiplin ilmu
6. Siswa menjalankan peran yang otentik.
Sewperti dari penelitian Ole Ravn Christensen(2008) Ia meneliti pendidikan matematika dengan memfokuskan aplikasi matematika dalam ilmu lain. Dalam menghubungkan ini, titik khusus penelitian adalah menggunakan model Pembelajaran berbasis masalah, seperti dikemukakan oleh Christensen(2008) keterampilan dapat diperoleh memalui Pembelajaran berbasis masalah. Ini berarti Pembelajran Berbasis Masalah ini baik untuk meningkatkan kemampuan koneksi matematika siswa. Hal yang senada dikemukakan oleh Ronis (2007) bahwa metode PBL memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif mengeksplorasi dan memecahkan kembali masalah yang otentik dan siswa mengidentifikasi masalah dalam berkomunikasi untuk memperkuata keterampilan memecahkan masalah mereka.
IV. Langkah-Langkah Dasar PBL
1. Siswa dibagi dalam kelompok
2. Masalah nyata dipresentasikan dan didiskusikan
3. Siswa mengidentifikasi apa yang diketahui, informasi apa yang dibutuhkan, strategi apa atau lengkah berikutnya diambil.
4. Penelitian individual dengan pokok masalah yang berbeda, sumber yang sama.
5. Sumber dievaluasi di dalam kelompok.
6. Siklus diulangi sampai siswa merasa masalah telah cukup disusun dan semua pokok masalah tersampaikan.
7. Tutor kelompok mengadakan penugasan dirinya dan temannya.
V. Fasilitator and PBL
1. Seorang fasilitator adalah kunci untuk lingkungan belajar ini
2. Model keterampilan proses tingkat tinggi
3. Penyelidikan untuk pemahaman siswa
VI. Keuntungan-keuntungan PBL
1. Lebih besar untuk mengingat pengetahuan
2. Interdisiplin, dapat dengan cukup mengakses dan menggunakan informasi dari berbagai subjek, pengetahuan terintegrasi dengan lebih baik.
3. Membangun keterampilan hidup yang lebih panjang: bagaimana meneliti, bagaimana berkomunikasi dalam kelompok, bagaimana menangani masalah.
4. Meningkatkan motivasi, daerah subjek yang menarik
5. Meningkatkan interaksi siswa dengan siswa, intraksi siswa dengan instruktur.
Penutup
Simpulan
Adapun simpulan yang dapat ditarik dari paper ini adalah:
Pembelajaran Berbasis masalah dapat mengembangkan berpikir kritis, berpikir kreatif dan berpikir matematika tingkat tinggi khususnya kemampuan koneksi matematika siswa
Saran
Disarankan kepada guru untuk menggunakan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah sebagai alternative untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematika tingkat tinggi yaitu kemampuan koneksi matematika.

DAFTAR PUSTAKA
Akmar, N.S.; Siew Eng, Lee. 2005. Integrating Problem-Base Learning(PBL) in Mathematics Method Course Online Journal of university Malaya, 3(1):2-3, (Online) http://ejum.fsktm.um.edu.my/ArticleInformation.aspx?ArticleID=334 (diakses 15 Agustus 2008.

Christensen, Ole Ravn. 2008. Closing the gap between formalism and application – PBL and mathematical skills in engineering Online Oxford Journal: Teaching Mathematics an its Aplications, (online) http://teamat.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/hrn012 (diakses 19 Agustus 2008)

Kwong, Man Yiu. 2004. Problem Based-Learning in Mathematics Education, (Online) http://www.ied.edu.hk/scast/PBL%20in%20MATH.pdf (diakses 11 Agustus 2008)

Roh, Kyeong Ha. 2003. Problem Base-Learning in Mathematics(online) http://www.ericdigests.org/2004-3/math.html (diakses 8 Agustus 2008)

Ronis, Diane. 2007. Problem base-learning for math and science Online Journals : Sage (Online), http://www.sagepub.com/librarians/zone/books/booksProdDesc.nav?prodId=Book231586&currTree=Subjects&level1=C00&level2=CJ0 ( diakses 19 Agustus 2008)

SARAN UNTUK MATRIKULASI BAHASA INGGRIS TAHUN BERIKUTNYA:
“ Disarankan matrikulasi berikutnya agar dapat dijadikan bahan untuk tesis sehingga pada awal pertemuan mahasiswa diminta mencari paper di internet yang berhubungan dengan rencana tesis tersebut, hal ini bertujuan agar topik setiap mahasiswa yang mempresentasikan lebih terfokus atau dengan kata lain setiap mahasiswa harus menentukan topik dahulu sebelum mencari paper di internet ”

By: Bambang Riyanto ( NIM: 20082012001)


About this entry